RANCANGAN PEMBELAJARAN DAN SILABUS UNTUK ORION DAN LUNA (homeschooling)

Rancangan pembelajaran untuk anak anakku kusesuaikan dengan usia mereka. Bahkan jadwal belajar merekapun kusesuaikan dengan hasil diskusiku dengan mereka. Banyak hal yang mendasari itu, agar anak anak nyaman belajar dan aku sebagai fasilitatornya sekaligus orangtuanya merasa nyaman dalam menyampaikan materi belajar kami bersama. Rancangan pembelajaran anak anak ini aku unduh dulu di internet. Terutama dari situs web milik diknas. Supaya pembelajaran kami terukur. Memang ada beberapa ketidaksesuaian disana dengan idealisme kami sebagai orangtua. Namun tetap bisa dipahami dan bisa dilakukan dengan teknik mengajar kepada anak anak kita dengan benar. Contoh silabus dan kegunaan rancangan belajar siswa bisa dilihat disini di rancangan pembelajaran (RPP)

Silabus pembelajaran agar anak anak terarah belajarnyapun aku siapkan dan aku pelajari dari situs milik diknas. Beberapa silabus untuk semua mata pelajaran dari kelas 1 – 6 sekolah dasar bisa dilihat disini.

Silabus Kelas 1 Tematik

Silabus Kelas 2 Tematik

Silabus Kelas 3 Tematik

Silabus Kelas 4 Tematik

Silabus Kelas 5 Tematik

Silabus Kelas 6 Tematik

Baru kemudian aku buat jadwal untuk anak anakku seperti ini jadwal belajar harian ori dan luna. Agar memudahkan aku mengevaluasi kembali apa saja yang sudah menjadi tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus setiap pembelajaran yang mereka lalui.

Pada dasarnya sebagai anak homeschooling, mereka bebas belajar kapan saja. Silabus dan kurikulum serta penjadwalan sebagai pendamping agar fasilitator berjalan sesuai role dan arahnya. Waktu pembelajaran kepada anak anak juga tidak lama setiap harinya. Namun diharapkan tetap full materi yang masuk dan bisa diserap olehnya tidak monoton haru belajar menghadapi buku. Materi pembelajaran bisa didapat dimana saja. Buku buku pembelajaran akademik juga bisa didapat disini http://bukusekolahdigital.com/data/2013/ .

Sisanya adalah kreatifitas orangtua untuk memahami bahan ajar dan mengajarkan kepada anak anaknya materi materi yang dibutuhkan.

#homeschooling  #RPP #silabus_pembelajaran #Orion_7Yo #Luna_5Yo

 

Advertisements

MENGENALKAN MUSIK

Membayangkan hidup tanpa musik itu seperti kesepian yang tiada akhir. Musik mengantarkan kita akan rasa, imajinasi dan juga kreatifitas pemikiran. Hidup tanpa musik seperti hidup yang tanpa rasa. Musik adalah ekspresi jiwa.

Alam raya adalah inspirasi musik yang indah yang tercipta di semesta ini. Suara burung, suara angin, bahkan suara guruh adalah musik terindah yang tercipta di alam raya ini.

Pernahkah mendengarkan dan duduk hening di tengah sawah yang menghijau. Dan bunyi gesekan daun padi yang saling mengganggu satu sama lain? ditingkahi suara merdu burung burung yang saling bersahutan ? menenangkan jiwa bukan..?

Untuk era saat ini, musik identik dengan lagu, syair dan juga beberapa hal tentang kreatifitas berbahasa. Dan alat alat musik sangat beragam bentuk dan kegunaannya.

Musik penting untuk pembelajaran anak anak. Selain untuk melatih kepekaan anak akan rasa, anak anak akan belajar memaknai kata dan lirik dari musik yang didengar atau dimainkan. Musik merangsang anak untuk berpikir logis, kreatif dan terukur serta melatih mengucapkan kata kata.

Untuk bayi dan anak usia dini musik sangat penting untuk perkembangan otak dan juga kecerdasan berbahasanya.

TERUS BELAJAR MENJADI ORANG TUA

Kalau ada yang bilang kami adalah orangtua yang ideal, atau keren karena baru lihat anak anak dan kemajuannya itu sekarang. Itu salah besar. Banyak peristiwa dan banyak hal yang menempa kami dengan proses yang sangatlah panjang ketika menemani anak anak tumbuh dan menemani jatuh bangun mereka berproses,  sampai menjadi seperti saat ini. Kami berdua terus belajar dan belajar dari banyak literatur parenting, belajar banyak dari peristiwa peristiwa sekitar dan belajar banyak dari kejadian kejadian tentang hubungan anak dan orangtua justru dari teman teman kami. Menganalisa dan menyesuaikan pola didik dengan cara keluarga kami. Menutup telinga dan menutup mata dari hal hal yang tidak sesuai dan terus melangkah dengan harapan baik bahwa apapun yang kami lakukan adalah demi anak anak.

IMG20171015122429

Memutuskan untuk menghomeschoolingkan anak anak  juga salah satunya berawal dan berdasar atas diskusi bersama dengan anak anak dan juga keinginan anak anak. Sekaligus pembelajaran penting untuk kami di era keterbukaan informasi saat ini. Mulanya seperti orang orang lainnya yang menyekolahkan anak anaknya disekolah formal. Mendidik mereka sembari bekerja berdua. Tidak punya waktu khusus karena dikejar deadline pekerjaan.  Membagi waktu antara kesibukan dan bermain dengan anak sambil terengah engah juga pernah kami lakoni. Berlari kesana kemari untuk menemukan pola didik yang cocok untuk mereka juga pernah. Membawa anak sambil kerja juga dulu sangat sering. Intinya dari hal hal itu kami belajar. Belajar memahami psikologi anak ketika anak tantrum, soale anakku yang paling gede model tantrumnya nggak nangis. Tapi diem aja kayak anak gede (diem di kamar). Belajar memahami mengapa mereka tidak jalan ketika diperintah, mengajarkan hal hal kecil yang penting untuk mereka belajar mandiri.

Kemandirian model apa yang cocok diajarkan untuk anak..?
Kemandirian mengenal diri sendiri. Mulai dari membuka dan memakai pakaian sendiri. Memakai sepatu dan sandal sendiri. Bisa membedakan milik diri sendiri dan orang lain. Makan sendiri. Cuci dan cebok sendiri. Kemudian baru memulai kemandirian yang berhubungan dengan lingkungan. Berani bermain bersama teman dalam lingkungan terkecil. Beradaptasi dan percaya diri untuk mengenalkan diri kepada orang lain. Demikian seterusnya seiring dengan pertumbuhan dan usia anak.

Kemandirian anak ada tolok ukurnya. Beberapa hal memang setiap anak berbeda. Namun secara garis besar tiap usia memiliki kekhasannya sendiri sebagai tolok ukur. Untuk kemandirian anak, beberapa parameter pencapaian anak usia 0 – 5 tahun bisa diukur disini.

Beberapa buku parenting yang aku baca, khusus untuk memfasilitasi mereka. Dan aku belajar serta menyadarinya kemudian ternyata parenting yang paling baik adalah tumbuh bersama mereka. Menikmati setiap detik dalam perkembangannya. Berusaha menyelami pendapat mereka dan mengenali apa yang mereka kenali. Belajar terus tanpa akhir. Belajar menjadi orangtua tanpa henti. Perjalanan masih panjang dan kami masih terus belajar.

 

MENGENALKAN MATEMATIKA

Matematika atau berhitung sebenarnya selalu ada dalam kehidupan sehari hari. Dan selalu dipakai, kapanpun, dimanapun bahkan dalam situasi apapun. Kita bukan lagi hanya mengukur dengan alat ukur, kita bahkan secara otomatis mengingat angka. Belajar berhitung sesungguhnya tidak sulit jika kita sudah tahu konsep dasar, mau mencari dan menggali semuanya dari kehidupan kita sehari hari. Semua sudah tersedia.

Pernahkah kita lupa berhitung setiap hari..? tidak bukan ?

Kita selalu menghitung, apapun yang dihadapan kita dari kita membuka mata kita. Jam berapa hari ini ? kita melihat angka. Mau pergi kemana  hari ini ? kita menghitung jarak. Mau belanja apa hari ini ? kita menghitung uang dan barang belanjaan. Dan itu secara otomatis. Betapa menakjubkannya ya…

Sejatinya apapun yang ada dihadapan kita, selalu kita hitung. Entah waktu, entah jarak, entah itu uang, makanan, pakaian selalu memiliki ukuran. Dan kita selalu bertemu dengan matematika.

Anak anak belajar matematika mulanya kuajarkan dengan mengelompokkan. Mereka kuajak ke taman dan mengelompokkan bunga bunga. Sekaligus belajar ilmu pengetahuan alam tentang tumbuhan. Setelah mengelompokkan mereka sekaligus belajar warna yang berbeda beda. Lalu mulai belajar menghitung bunga yang berada dalam satu kelompok itu. Menambahkan, mengurangkan. Selain itu, di taman banyak sekali pohon pohon yang berbeda jenis. Ada yang besar dan ada yang kecil. Saat itu mereka belajar mengenal besar dan kecil. Mana yang lebih besar dan mana yang lebih kecil. Menemukan biji biji atau kalau beruntung buah buah kecil atau besar. Melihat kupu kupu. Semua itu kita dapati di ruang terbuka yang berada di dekat kita setiap hari.

Lain waktu, aku mengajak anak anak bermain dan menunjukkan sebuah bola. Menanyakan kepada mereka bentuk bola itu seperti apa dan disebut apa. Berjalan jalan keliling lingkungan. Melihat bentuk bentuk rumah yang kami lalui ketika berangkat pulang dan pergi. Ada bentuk kotak pintunya, atau jendelanya. Bentuk atapnya yang segitiga. Jendela yang brrbentuk oval. Mereka belajar bangun ruang/ geometri tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang belajar. Menjelaskan perlahan lahan pada mereka. Bahwa bentuk bentuk itu ada disekitar kita.

Nggak cuma itu, anak banyak belajar konsep ketika kita mau mengajak mereka berdialog. Berbicara tentang banyak hal. Bulan dilangit yang bentuknya mirip bola, bintang bintang yang berpijar.

Ketika anak anak sudah semakin besar, mulailah konsep konsep dan hal hal yang mereka lihat digali kembali dan menerapkan dalam aplikasi matematika tertulis. Menuliskan dalam bentuk angka di kertas dan menjelaskan seperti ketika mereka melihat bentuknya.  Melakukan proses penambahan, pengurangan, perkalian pembagian dan seterusnya.

IMG20171202051921

Alat alat yang kugunakan untuk mengajarkan matematika juga berada di sekitar rumah. Seperti lego untuk bermain menghitung penambahan, pengurangan, perkalian bahkan pembagian. Bola, kelereng, dan kotak pensil untuk bentuk bangun ruang. Mobilan kecil, rel kereta, piring piring kecil untuk masak masakan. Semua bisa dipakai untuk mengajarkan anak tentang matematika dengan gembira dan senang.

PEKERJAAN RUMAH

Pekerjaan rumah adalah pekerjaan non gender yang memang harus diajarkan sejak anak berusia dini. Gunanya apa..? Gunanya untuk melatih anak hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Pekerjaan rumah juga adalah pekerjaan team yang kita sebut keluarga. Sehingga disana anakpun akan belajar bekerja dalam team. Dan menemukan kegembiraan.

Anak anak sudah terbiasa dengan pekerjaan dirumah sebelum mereka pergi belajar, bermain atau yang paling besar bekerja. Pekerjaan rumah membuat ikatan/bounding kita orangtua terhadap anak anak semakin erat. Kita menjadi lebih dekat dengan mereka karena kita akan merasa satu team yang sama dalam keluarga.

Pendidikan anak yang pertama kuterapkan adalah disiplin. Bangun pagi, mandi, bersiap dan berangkat. Berangkat itu bisa berangkat kerja, berangkat belajar, atau berangkat main… hahahhaha…. 😀 Iya bermain itu juga belajar.Mengerjakan rumah dengan riang juga termasuk bermain.

Aku bangun paling pagi, sebagai ibu aku mengerjakan semua porsiku sebagai ibu. Memasak, mencuci, bebenah ruangan, menyapu menyetrika dan seterusnya. Semua pekerjaan itu tidak akan sanggup aku lakukan sendirian, sehingga aku mengajak anak anakku untuk ikut serta membantu dan ikut serta berperan aktif dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Kami berbagi tugas. Mulai dari bapaknya, ibunya sampe anak anaknya.

Asissten rumah tangga tidak diperlukan jika semua anggota team sudah melaksanakan tugasnya dan sudah berjalan dengan rolenya.

 

Pekerjaan rumah, mulai diberlakukan kapan..? kapan saja sejak anak siap dan punya keinginan membantu. Keinginan membantu itu berawal dari mencontoh kegiatan orangtua kan..? Ketika orangtua mulai memegang sapu dan anak ingin tahu, jelaskanlah. dan ajak untuk ikut serta. Sambil bermain. Jangan memaksakan. Karena tenaga mereka tidak sebanyak kita orangtuanya. Rutinitas itu akan terekam di memori mereka secara otomatis. Untuk anak yang besar, berilah mereka tanggungjawab untuk menjaga adik adik mereka agar tidak keluar jalurnya. Hal itu akan mengajarkan dasar leadersip tanpa mereka sadari. Dengan cara yang halus dan elegan.

Lalu apa..?

Lanjutkan dengan kegiatan lain. Seperti mengumpulkan cucian kotor di keranjang. Memasukkan ke mesin cuci, menjemur. Sepertinya makin seru ya.. setelah itu ke pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Melepaskan sarung bantal dan mengganti dengan yang baru. Untuk anak anak memang butuh waktu agak lama bagi mereka untuk membiasakan diri. Namun konsistensi dan rutinitas akan membuat mereka terbiasa tanpa mereka sadari. Dan kebiasaan itu akan terbawa sampai besar.

20170718075733

 

Pekerjaan rumah yang lain yang harus dikerjakan apa lagi..? selain mencuci, menyapu, dan bebenah..?  memasak. Yup.. memasak. Menyiapkan makanan buat diri sendiri.  Tentang memasak sudah ada di link ini https://etyprasetya.wordpress.com/2018/09/20/cooking-my-homeschooling-activity/

Betapa menyenangkan dan penuh dengan tantangan ya. Anak dan orangtua akan belajar bersama mengerjakan sesuatu sebagai team.  Yuuukk kita coba

COOKING (my homeschooling activity)

Apa yang dipelajari anak anak ketika mereka memasak..? mereka harus menyiapkan bahan masakan, menyiapkan peralatan dan juga menyiapkan bumbu apa saja yang diperlukan. Disanalah mereka belajar banyak hal. Dari bahan masakan, mereka akan mengenal yang namanya sayuran, yang namanya buah, dan juga umbi umbian. Kemudian mereka akan mengenal peralatan masak, dari wajan, panci, sutil, saringan, dandang, bahkan nyiru. Lalu dari bumbu dapur mereka akan mengenal banyak macam bumbu dapur yang di daerah tropis macam negara kita ini sangat beragam. Sereh, daun salam, daun jeruk, kemangi, jeruk nipis, kunyit, jahe, langkuas, lada, ketumbar, cabe, bawang dan lainnya. Banyak sekali bukan.? dan itu tidak diajarkan di sekolah formal kecuali sekolah kejuruan khusus memasak.

Orion dan Luna belajar memasak dan mengenal bumbu sejak mereka kecil. Aku ikutkan dalam kegiatan memasak. rumit..? sama sekali tidak.

Pertama kali mereka mengenal cooking tidak langsung terjun didapur lhoo. Tapi belajar menyajikan makanan yang sudah jadi. Kusiapkan roti dan messes, dan mereka belajar mengoles roti menggunakan mentega dan menaburkan meses diatasnya, menumpuk roti lalu menikmatinya berdua.

17492521_10213067697835970_8893660792597446898_o

Tahapan berikutnya setelah mereka siap, mereka mulai diajak turun ke dapur, membedakan mana bawang putih dan bawang merah. Dari warna, kemudian tekstur, bau dan juga rasa.  Seru sekali bukan..?

Setelah itu tahapan mengetahui dan mengenal. Disini mereka pun belajar hal yang lain. Seperti mengenal rasa manis, asam, pahit dan juga gurih bahkan rasa hambar pada makanan. Perbedaan perbedaan rasa itu, membuat mereka memahami banyak hal. Pembelajaran lain adalah menguleni / mengaduk adonan. Merasakan kenyal, lembut, keras dan juga memahami peristiwa gagal masak / bantat.

Lalu kemudian apa..? memasak yang sesungguhnya. Dari menyiapkan bahan, memproses dan menyajikan. Apakah mereka sanggup..? ternyata mereka sanggup lho. Dan mereka dengan bangga dan percaya diri memberanikan diri untuk memasak minimal untuk dirinya sendiri.

***notes
Memasak atau Cooking  menurut  wikipedia adalah kegiatan menyiapkan makanan untuk dimakan dengan cara memanaskan  pada bahan makanan agar bahan makanan tersebut bisa dikonsumsi. Memasak terdiri dari berbagai macam metode, teknik, peralatan dan kombinasi bumbu dapur untuk mengatur rasa memudahkan makanan untuk dicerna dan mengubah makanan dari segi warna, rupa, rasa, tekstur, penampilan dan nilai nutrisi. Memasak secara umum adalah persiapan dan proses memilih, mengatur kuantitas, dan mencampur bahan makanan dengan urutan tertentu dengan tujuan untuk medapatkan hasil yang diinginkan. Memanaskan bahan makanan umumnya, walaupun tidak selalu, perubahan bahan makanan tersebut secara kimiawi, mengakibatkan adanya perubahan rasa, tekstur, penampilan, dan nilai nutrisi.

#homeschooling #my_kids #cooking #mengenal_rasa #mengenal_alat_masak

SEKELUMIT KISAH HOMESCHOOLINGKU

Homeschooling yang dilakukan dalam keluargaku pada dasarnya adalah sangat sederhana. Intinya sebagai orangtua, kami sepakat untuk mendengarkan apa keinginan dan memperhatikan kebutuhan anak anak. Dan memberikan kebutuhan akan kedekatan mereka kepada kami kedua orangtuanya. Yang berikutnya homeschooling memudahkan kami memantau semua perkembangan mereka dari usia dini sampai mereka memiliki dasar dasar penting dan sendi penting untuk pendidikan dan kemandirian mereka.

Bagi keluarga kami, pendidikan yang paling penting itu adalah pendidikan karakter, moral yang berkaitan dengan integritas dan kemandirian. Baru selanjutnya kami akan mengajarkan pembelajaran akademik yang bisa digunakan dalam pergaulan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Mendampingi anak anak untuk berhomeschooling harus dengan totalitas dan keinginan untuk terus memperbaiki diri dan memperbaiki konsep berpikir kita sebagai orangtua. Banyak sekali orangtua yang memutuskan homeschooling, namun menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan pembelajaran hidup ini kepada orang lain. Memberikan guru privat untuk anaknya dan sama sekali tidak tahu sejauh apa perkembangan anaknya. dan itu sangat salah kaprah. Homeschooling lebih mengedepankan hubungan baik antara anak dan orangtua agar bisa transfer knowledge dan saling memberikan pengetahuan diantara mereka. Tidak salah memang memberikan guru pendamping karena sebagai orangtua kita tidaklah sempurna. Namun jangan pernah lupa bahwa mereka adalah anak anak kita. Yang seharusnya memahami kebutuhan mereka adalah kita orangtuanya. Guru yang memberikan pengajaran tambahan sebaiknya juga kita kenal dan kita evaluasi untuk perbaikan dan menjaga role pembelajaran anak anak kita sesuai tujuannya.

Pernahkah kita mendapati hal itu..? orangtua yang sekedar ingin anaknya berbeda. dan ia memutuskan anaknya berhomeschooling..? yang harus diingat adalah tidak semua anak siap berhomeschooling dan tidak semua orangtua siap berhomeschooling. Jadi sebelum berhomeschooling ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Misalnya, kesanggupan kita sebagai orang tua untuk menemani anak belajar dan tumbuh,  legalitas pendidikan anak anak kelak dst. Dan juga masa depan anak.

Pikirkan kembali masak masak untuk berhomeschooling jangan hanya sekedar ikutan trend yang ada.