Kembali Ke Taman

Kembali ke taman. kami kembali ke taman. Seperti biasa kami bermain lagi ke taman dekat rumah. Bermain. Disana banyak sekali yang bisa dilihat. Banyak kendaraan lalu lalang dan orang orang yang juga berjalan kian kemari. Banyak kupu kupu dan ragam bunga aneka warna.

‘warna biru’ ketika orion menemukan bunga telang,

‘pink’ ketika luna menemukan bunga mawar

‘hijau’ anggrek yang ditunjuknya.

‘putih’ begitu luna melihat anggrek panda

mereka belajar warna disini. semua bagus dan semua indah. Kami duduk duduk di bangku dan memandang lapangan. Melihat struktur bangku. Dan bentuknya. Melihat anak anak bermain bola dengan bentuknya yang bundar dan melihat  anak anak naik sepeda dengan roda 4 nya. Sangat menyenangkan. Kami belajar matematika disana. Seru.

Ternyata matematika bisa ditemui disana. Menjumlah dan menghitung aneka bunga. Menghitung banyakya daun yang jatuh, kendaraan yang lewat, orang yang berada dilapangan. dst.

 

 

Advertisements

Menemukan Matematika di Rumah

Apa benar ? Yups. Seperti di awal cerita, matematika adalah ibu dari semua cabang ilmu. Dan kita akan menemukannya dimana mana. Bahkan dirumah kita. Orion dan Luna suka sekalu keluar masuk dalam rumah. Berlari dan kejar kejaran. Kira kira bisakah kita menghitung orang yang berlari? percepatan larinya dan seterusnya tanpa matematika? tentu saja tidak.

Dan aku mengajarkan pada mereka matematika dalam hidup sehari hari. Misalnya hari ini. Kita baru saja keluar dari rumah. Mau tahu apa yang dibicarakan ? Pintu dan Bentuk Rumah.

‘tutup pintunya or, lalu dikunci ya’  pesanku pada orion ketika kami akan keluar dan bermain agak jauh dari rumah.

‘siap…’

‘ini kuncinya bu..’

‘tadi ori perhatiin nggak? pintu rumah kita berbentuk apa?

‘persegi panjang’

‘lubang kuncinya?’

‘lingkaran’

‘rumah kita dari jauh atapnya berbentuk apa?’

‘segitiga’

‘jendela kita bagaimana?’

‘berbentuk persegi juga’

heheheh…. ternyata semua ada bentuknya ya..:-D saat itu kita sudah masuk ke pengajaran geometri. tata ruang dan bentuk dalam matematika. Lalu mulai belajar menghitung.  Mulai menghitung dengan penambahan, pengurangan dan perkalian. Dari mulai menghitung jumlah jendela dan menyebutkan bentuknya. Menyebutkan julahh pintu dan bentuknya, perabot rumah tangga. wah semua penuh dengan ide matematika. Berhitung dan melihat bentuk bangun ruang.

 

Alam adalah Buku Matematika Yang Terbentang

Setiap hari kita bertemu dengan matematika, dan aku selalu sadar itu. Dan paling banyak ketika kita berjalan jalan/tracking. Mengapa demikian? Alam sudah menyediakannya untuk kita, itu sebabnya matematika adalah ibu semua cabang ilmu. Semua menggunakan matematika. Dan smeua menggunakan pengukuran. Benarkah demikian? Mari kita uji dengan sederhana.

Ketika kita bangun tidur dipagi hari, apa yang kita lakukan pertama kali melihat matahari terbit. “ini pukul berapa?”, lalu segera mandi. Menyiapkan air dengan takaran 1/2 bak untuk mandi. Lalu memasak 2 butir telur yang dibuat dadar. Menyiapkan sarapan untuk 2 orang, 2 gelas susu, 2 bangku, 2 piring, 2 pasang sendok garpu, 2 lap tangan. Kita menemukan apa disana? angka angka yang ditulis bukan..? semua secara otomatis terekam dibenak kita. Dari mana kita mengukur jumlah angka itu ? dari ornag orang yang berada dirumah kita. Yups betul sekali.

Berikutnya, kita berjalan keluar rumah, kita bertemu 3 orang satpam kompleks. Kita menyapu halaman, berapa banyak daun daun yang berguguran semalam? lalu kita keluar pagar rumah kita. Kita menjumpai  2 ekor anjing milik tetangga, 4 buah mobil yang beriringan keluar gerbang kompleks, 5 sepeda motor milik tukang ojek yang menunggu penumpang dan sederet rumah dengan berntuk persegi dan segitiga berjejer disepanjang jalan yang kita lewati misalnya.  apa yang kita temukan? angka angka.. 😀 dan sekali lagi, itu sudah dibawah sadar kita.

Matematika adalah salah satu bagian dari pendidikan kehidupan. Karena dimana mana kita selalu mendengar, melihat dan bertemu dengan nya dalam segala bentuk. baik berupa angka, pecahan dan juga berupa dasar dasar geometri bentuk persegi, segitiga, lingkaran bahkan berupa bola yang bisa dihitung volumenya.

Tinggi pohon pohon yang kita lewati, bentuk jalan yang perspekstif dan juga perempatan jalan yang kita lewati. Semua memiliki unsur matematika di dalamnya. Dan dari perilaku kita, anak anak mencontohnya. Mengenalkan matematika tidak harus jauh jauh koq. Disekitar kita buku matematika alam terbentang dengan gamblang dan jelas. Hanhya butuh menyesuaikan diri. Dan butuh memahami agak dalam saja.

Matematika dan Bunga

Matematika adalah ibu dari semua cabang ilmu. Mengapa? Karena matematika selalu melekat dalam semua pembicaraan, dalam semua keadaan dan dalam semua kebiasaan hidup yang dijalani. Pada masa anak anak mengajarkan matematika kepada mereka sangatlah mudah. Beberapa kali aku mengajak mereka berjalan dan bermain lalu berhitung. Apa yang tidak bisa kamu hitung dialam ini? jawabnya tidak ada. Semua bisa dihhitung bahhkan banyaknya daun dalam spotong kayu, atau roti di meja makanmu, biskuit dalam toples, semua bisa dihitung.

Proses menjalani matematika pertama kali aku mengenalkan anak pada bilangan. Memakai jariku untuk menghitung. Lalu ketika kami ke taman, kami menghhitung kupu kupu yang lewat dan berkeliaran. Menghitung mobil yang berjalan dan melintas satu satudi jalan raya yang kami lalui atau menghitung bunga bunga di taman dan bertanya tanya kepada anak anak, jumlah bunga merah ada berapa? bunga putih, bunga ungu, bunga orange dan seterusnya. Itu baru mengenai jumlah. Karena yang ditanya adalah berapa.

esoknya ketika kami pergi bermain lagi ke taman, ada beberapa bunga yang layu. Dan masih menghitung berapa. Berapa bunga yang layu dan gugur, sehingga ada proses pengurangan disana. Lalu berapa yang masih tersisa. Belajar dari bunga. Menghitung berapa jumlah kuntumnya hari ini. Dan berapa jumlah kuntumnya esok hari. Mengajarkan kepada anak anak tentang penambahan, pengurangan. Besar kecil dan sekaligus warna. Pelajaran itu sangat menyenangkan bagi mereka.

Maka ajaklah ke taman ketika anak anak ingin belajar matematika. Begitu pesan Ki Hajar Dewantara. Selain Matematika, anak akan belajar mengenai alam dan lainnya dan mereka paham tanpa kita paksa untuk memahami.

Begitulah..

SEKOLAH RUMAH atau HOMESCHOOLING

Tidak ada perbedaan definisi antara homeschooling dan home education. Di buku online wikipedia menyebutkan bahwa homeschooling juga dikenal dengan kata home education. Hanya saja, kata homeschooling banyak dgunakan di Amerika tepatnya di daerah Amerika Utara, sedangkan istilah home education populer di Inggris / Britania Raya, Eropa, dan Negara-negara persemakmuran.
Homeschooling merupakan salah satu alternatif pola pendidikan. Dan definisinya menjadi tak terbilang, karena setiap keluarga yang menjalankan proses homeschooling pasti memiliki alasan mengapa mereka menjalankan homeschooling dan memiliki definisi sendiri tergantung pada cara/metode yang mereka gunakan, tergantung dari kondisi dan keadaan serta tergantung dari kesempatan / waktu yang dimiliki orangtua. Namun, definisi paling umum yang dianut sebagian besar orang adalah: homeschooling adalah ketika sebuah keluarga menyelenggarakan sendiri pendidikan untuk anak-anaknya, dengan tidak mengirimkannya ke sekolah formal.
Penyelenggara homeschooling adalah KELUARGA (bukan lembaga), dan basisnya adalah RUMAH.
John Holt (1977) mendefinisikan homeschooling sebagai “Proses bertumbuh dan belajarnya seorang anak, tanpa pergi ke sekolah”.
Dan selanjutnya homeschooling menjadi ‘alat’ untuk mencapai tujuan pendidikan.

Beberapa waktu lalu, beberapa orang menanyakan hal hal yang berkaitan dengan homeschooling. Dan beberapa kali juga sempat aku memberikan kulwap tentang homeschooling. Pertanyaan pertanyaan dasar yang mereka tanyakan juga banyak dan beragam. Dari formalitas birokrasi perijinan sampai ke kurikulum pendidikan.

Ini Isi dari materi kuliah tentang homeschooling kemarin

Sekolah rumah atau Homeschooling adalah metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah, di bawah pengarahan orangtua atau tutor pendamping, dan tidak dilaksanakan di tempat formal lainnya seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar terstruktur dan kolektif.

Homeschooling Bukanlah lembaga pendidikan, bukan juga bimbingan belajar yang dilaksanakan di sebuah lembaga. Tetapi homeschooling adalah model pembelajaran di rumah dengan orang tua sebagai guru utama dan bisa juga mendatangkan guru pendamping atau tutor untuk datang ke rumah. Homeschooling juga bukan berarti kegiatannya selalu dilaksanakan di rumah, siswa dapat belajar di alam bebas baik di laboratorium, perpustakaan, museum, tempat wisata, dan lingkungan sekitarnya. Tetapi inti dari homeschooling tetap yaitu model pendidikan yang dilaksanakan di rumah dengan orang tua sebagai guru utama.

Para orangtua memiliki sejumlah alasan yang membuat mereka memilih model pendidikan homeschooling untuk anak-anak mereka. Tiga alasan yang kebanyakan dipilih oleh orangtua di Amerika Serikat adalah masalah mengenai lingkungan sekolah, untuk lebih menekankan pengajaran agama atau moral, dan ketidaksetujuan dengan pengajaran akademik di sekolah negeri atau sekolah swasta.

Saat ini, homeschooling sangat populer di Amerika Serikat, dengan persentase anak-anak 5-17 tahun yang diberikan homeschooling meningkat dari 1.7% pada 1999 menjadi 2.9% pada 2007

Homeschooling di Indonesia

Makna homeschooling di Indonesia telah disalah artikan oleh beberapa pihak. Saat ini banyak lembaga pendidikan non-formal yang berdiri dengan menggunakan merek homeschooling tetapi kegiatan belajar dilaksanakan di lembaga. Tentunya hal ini tidak jauh berbeda dengan model sekolah non-formal lainnya. Padahal di luar negeri tidak ada istilah lembaga homeschooling, kecuali konsultan homeschooling, atau komunitas homeschooling. Adapun terkadang orang tua memanggil tutor datang ke rumah melalui perusahaan jasa penyedia tutor atau semacam lembaga les privat, atau juga mencari tutor dengan cara mencari informasi pada konsultan homeschooling dan komunitas homeschooling.

Di Indonesia, homeschooling semakin dikenal masyarakat setelah berdirinya beberapa lembaga pendidikan non formal elit yang menggunakan merk homeschooling. Selain itu, banyak para artis, seniman, hingga atlet memilih model pendidikan seperti ini. Hal ini membuat homeschooling terkesan esklusif dan hanya untuk kalangan masyarakat menengah keatas. Padahal pada hakikatnya, kegiatan homeschooling dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dari kalangan menengah atas hingga kalangan menengah bawah dengan syarat orang tua benar-benar mengatur model kegiatan belajar mengajar dan kurikulum yang paling efektif, sesuai dan benar bagi anak-anaknya.

Macam-Macam Homeschooling

Ada Beberapa klasifikasi model homeschooling diantaranya:

  1. Homeschooling tunggal. Model ini dilaksanakan dalam satu keluarga dan tidak bergabung dengan keluarga   lainnya yang melakukan homeschooling terhadap anak-anaknya.
  1. Homeschooling majemuk.Model ini dilaksanakan oleh beberapa keluarga dengan kegiatan-kegiatan tertentu juga kegiatan pokok dan kegiatannya tetap dilaksanakan di rumah masing-masing.
  1. Komunitas homeschooling.Komunitas homeschooling adalah gabungan dari komunitas majemuk dan mereka menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok, dan hal-hal lainnya.

Payung Hukum

Di Indonesia para Homeschooler begitu kami menyebut pada para siswa homeschooling dilindungi oleh undang undang.

Antara lain :

  1. Hasil pendidikan informal diakui sama dan dapat dihargai setara dengan pendidikan nonformal dan formal setelah melalui uji kesetaraan sesuai standar nasional pendidikan. Payung hukum untuk para homeschooler adalah Pasal 27 ayat (2) UU Sisdiknas, j Pasal 117 PP 17/2010, Pasal 4 ayat (1) Permendikbud 129/2014
  2. Pesekolah rumah memiliki hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pendidikan formal dan nonformal untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi dan/atau memasuki lapangan kerja. Pasal 4 ayat (2) Permendikbud 129/2014.
  3. Pesekolahrumah dapat diterima di SD/SMP/SMA sejak awal atau tidak pada awal tahun pelajaran. Payung hukumnya Pasal 10-11 Permendikbud 129/2014

Untuk menjalankan Homeschooling atau Sekolah rumah, pemerintah memberikan syarat sebagai berikut :

  • Mendaftarkan diri ke Dinas setempat dengan menyertakan :
  • Identitas diri orangtua dan peserta didik
  • Surat pernyataan bertanggung jawab melaksanakan pendidikan di rumah dari kedua orangtua
  • Surat pernyataan kesediaan dari peserta didik yang telah berusia 13 tahun
  • Dokumen Program Sekolahrumah yang sekurang-kurangnya berisi rencana pembelajaran

Faktor yang Berkorelasi dengan Keberhasilan Siswa Homeschooling:

  • keterlibatan orangtua yang tinggi
  • individualisasi
  • tanggap
  • instruksi kontekstual
  • rasio siswa-guru yang rendah
  • lebih banyak waktu untuk belajar
  • harapan yang tinggi bagi prestasi siswa

**bahan sebagian dari Wikipedia dan dari Perserikatan Homeschooler Indonesia.

** Pertanyaan:

  1. Jika memulai homeschooling untuk anak dibawah 13 th, masihkah di perlukan surat pernyataan, kan anaknya belum bisa menyatakan mau atau tidak nya, atau ada surat pengganti,?
  2. Saya tinggal di Bogor, KTP dan KK saya dan suami masih Garut, harus ke Dinas mana untuk mendaftarkannya?

Sekian dan terima kasih mbak

Jawaban

  1. Untuk anak dibawah 13 th tidak diperlukan surat pernyataan kesediaan mengikuti homeschooling.
  2. Bisa ke Dinas Kependidikan setempat. Tapi biasanya karena beberapa hal, diknas tidak mau menerima. Permasalahannya banyak pegawai dinas yang belum paham mengenai Homeschooling, mau ke sana sendiri juga biasanya dipingpong atau pulang dengan tangan hampa (pengalaman beberapa ortu homeschooler). Jadi sebaiknya mengurus pada PKBM setempat. Yang nantinya akan membantu menguruskan hal hal yang berkaitan dengan Homeschooling.

Pertanyaan:

saya ingin menerapkan HS pada anak saya 3.5 th. Tapi saya belum tau apa saja yg harus saya ajarkan dan kegiatan2 yg bisa dilatih dirumah. Apa ada kurikulum sebagai panduan orang tua mendidik anak dirumah?? Dari anak masih kecil sampai setingkat kuliah??

Jawaban

Sejatinya yang namanya homeschooling itu adalah pendidikan berbasis keluarga. Untuk anak usia 3,5 th banyak yang bisa dilatihkan. Dari kehidupan sehari hari saja.

Misal ;

Untuk melatih kemandirian, anak diajak untuk toilet training sendiri, membuka pakaian dan meletakkan pada tempatnya, intinya mengurus diri sendiri.  Untuk kurikulum baku, pendidikan akademik tidak jauh berbeda dengan yang dari dinas pendidikan. Namun cara pengajaran/ penyampaian materi  itu yang berbeda. Contohnya gini, kalau disekolah formal komunikasi  hanya satu arah, guru ke siswa. Namun di praktek homeschooling, komunikasi dua arah, lebih  ke arah diskusi. Sehingga anak bisa menyerap dengan maksimal apa yang menjadi inti pelajarannya.

Untuk panduan kurikulum pendidikan, jika yang ibu maksud adalah kurikulum pendidikan akademik itu bisa ibu lihat di www.kemdikbud.go.id

Untuk materi rancangan kurikulum Homeschooling dan yang lain bisa mengikuti webminar dan mencari di www.rumahinspirasi.com

Pertanyaan

Bagaimana menentukan kurikulum untuk hs? Ikut kurikulum diknas atau bikin sendiri?

Jawaban

Karena HS itu berbasis keluarga maka yang bisa menentukan adalah orangtua apakah akan mengikuti kurikulum diknas atau akan membuat sendiri yang disesuaikan dengan minat dan kesukaan anak.  Namun tata pengajarannya diserahkan kembali pada keluarga. Ada jenis home schooling yang mengadopsi kurikulum diknas/sekolah formal hanya di pelajari dirumah, tapi kurikulum home schooling kami ada 3 macam yang pertama adalah membangun prilaku moral anak yang baik dengan menjadikan orang tua sebagai contoh langsung yang ditiru anak, yang kedua adalah menemukan minat dan bakat anak kemudian mencarikan kursus dan sekolah yang bisa mengembangkan minat dan bakat tersebut / learn to maestro, dan yang ke tiga adalah melatih kemandirian anak / survival. Sisanya bekerja sama dengan PKBM untuk mempersiapkan anak ikut ujian penyetaraan agar bisa mendapat ijazah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Pertanyaan

tentang keberhasilan siswa homeschooling, apakah ada pelaporan secara khusus dan  rutin serta harus dilaporkan kepada siapa?

Jawaban

Mengenai tingkat keberhasilan siswa homeschooling, banyak yang hidupnya berhasil. Yang paling utama adalah Nabi Besar Muhammad SAW yang home schooling melalui Kakeknya kemudian dilanjutkan oleh Pamannya sebagai Tutor pendamping. Hanya saja zaman itu belum dikenal istilah home schooling. Yang lainnya, Leonardo Da Vinci jenius di segala bidang, Thomas Edison Jenius di bidak Elektrika Mekanika, KH Hasyim Ashari, KH Wachid Hasyim, Buya Hamka (tertulis di buku Home Schooling Kak Seto). Dan ada salah satu professor termuda di sekolah paling bergensi MIT di AS juga Home Schooling link : https://en.wikipedia.org/wiki/Erik_Demaine, ada juga anak yang berkebutuhan khusus yang di beritakan masuk ke ITB link https://www.rappler.com/indonesia/berita/174050-izzan-remaja-jenius-tembus-itb-usia-14-tahun

Nah, di Indonesia keberhasilan siswa homeschooling tidak ada pelaporan khusus. Namun karena berada di bawah PKBM, maka siswa homeschooling diperlakukan setara dengan siswa sekolah formal lainnya dalam hal birokrasi pendidikan. Pelaporan tentu saja rutin per semester sama dengan siswa sekolah formal lainnya jika yang ibu maksud adalah pelaporan akademik.

Pertanyaan

Mbak Ety, mau nanya apakah bisa saat anak sudah homeschooling misal usia TK kemudian tiba-tiba anaknya pengen masuk sekolah formal.  Apakah bisa diterima? Atau adakah persyaratan khusus? Terimakasih banyak

Jawaban

Yups. Bisa banget mbak.  Intinya begini ; Pendidikan anak usia dini (“PAUD”) setingkat TK adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

PAUD diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan *bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar*.

Untuk menjawab pertanyaan mbak Anis tentang masuk ke sekolah formal asumsi saya SD ya, maka kita harus berpedoman  pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (“UU 20/2003”)

Sudah pasti harus diterima, karena sudah ada undang undang yang menjadi payung hukumnya.

Tambahhan referensi bisa dilihat di link ini :

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt583ce2bdd09a0/perlukah-ijazah-tk-untuk-mendaftar-masuk-sd

Pertanyaan

  1. Apakah ada usia anak yg ideal mengikuti homeschooling
  2. Hingga saat ini, apakah ada kesulitan bagi anak2 HS yg akan ikut dipendidikan formal dalam negeri misanya anak HS akan ikut kuliah di PT.
  3. Adakah komunitas HS di Bogor untuk anak usia 11 tahun ke atas ?

Jawaban

  1. Berapapun usia anak, itu ideal jika ber homeschooling. Karena pada dasarnya semua anak dari lahir sudah ber homeschooling, dan sejatinya homeschooling itu adalah pendidikan berbasis keluarga. Anak mendapatkan kebiasaan dan belajar dari awal tentang bagaimana berbicara, berjalan, etika dan moral semua berasal dan berawal dari keluarga.  Namun jika yang ibu maksudkan ber homeschooling itu menyangkut pendidikan berisikan ilmu ilmu bermuatan nilai akademik. Itu bisa juga dimulai dari saat mereka sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain.
  2. Anak anak HS tidak berkesulitan untuk sampai PT, Jika persyaratan lengkap dan memiliki NISN, dia berhak ikut ujian penyetaraan dan selanjutnya bisa ikut dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi.
  3. Komunitas homeschooling di bogor  untuk usia itu saya belum pernah dengar, tapi anda bisa masuk ke FB Indonesia Homeschooler untuk membuat jejaring bersama.

 

Pertanyaan

  1. Adakah komunitas/konsultan homeschooling di Bogor?
  2. Bagaimana bentuk rapor homeschooler?
  3. Bagaimana prosedurnya jika ingin pindah dari jalur homeschooling ke sekolah umum? Misal sampai kelas 2 SD homeschooling, di kelas 3 SD mau melanjutkan ke sekolah umum.
  4. Untuk menjalankan Homeschooling, kita wajib mendaftarkan diri ke Dinas setempat ya mba? Di bogor alamatnya dimana?
  5. Surat pernyataan bertanggung jawab melaksanakan pendidikan di rumah dari kedua orangtua, apakah ada format khusus?
  6. Dokumen Program Sekolahrumah ini apakah sama dengan kurikulum?
  7. Instruksi kontekstual itu maksudnya apa mbak?

Jawaban

  1. Komunitas homeschooling umum di bogor banyak mbak, jika anda berkenan anda bias googling atau jika belum sesuai dengan misi dan visi keluarga pun anda bisa membuatnya sendiri dengan berjejaring bersama keluarga yang lain yang satu misi. Saya sendiri berkomunitas  di  berbagai komunitas homeschooling. Tidak hanya di bogor.  Tentang konsultan homeschooling ; disini yang saya maksud sekolah rumah, atau sekolah berbasis keluarga saya belum mendengarnya di bogor. Saya sendiri baru menjadi konsultan homeschooling sejak berada di PHI, karena melakukan pendampingan untuk para keluarga homeschooler secara online.
  2. Raport homeschooler sama dengan raport pada umumnya sekolah formal. Hanya saja, penerbitnya adalah PKBM setempat dimana homeschooler/ siswa homeschooling  itu bernaung. Khusus raport ini diisikan oleh orangtua masing masing, kemudian dilaporkan ke PKBM setempat, yang selanjutnya akan memasukkan dalam raport untuk diinputkan pada Dapodik. Itu berlaku untuk para homeschooler yang sudah memiliki NISN.
  3. Ya menghubungi PKBM setempat jika sudah memiliki NISN. Dan meminta surat pindah, untuk memasuki jalur formal. Selanjutnya PKBM akan meneruskan ke Diknas setempat. Dan anak bisa masuk ke jalur formal dengan NISN yang baru yang terdaftar disekolah formalnya.
  4. Betul. Harus mendaftarkan diri ke diknas setempat. Tapi biasanya karena beberapa hal, diknas tidak mau menerima perseorangan. Permasalahannya banyak pegawai diknas yang belum paham mengenai Homeschooling, mau ke sana sendiri juga biasanya dipingpong atau pulang dengan tangan hampa (pengalaman beberapa ortu homeschooler). Jadi sebaiknya mengurus pada PKBM setempat. Yang nantinya akan membantu menguruskan hal hal yang berkaitan dengan Homeschooling seperti NISN,kurikulum, jadwal ujian dst.
  5. Tidak ada format khusus. Namun jika melalui PKBM, biasanya akan diberikan contohnya.
  6. Tidak sama. Karena kurikulum itu adalah acuan pendidikan. Dan setiap keluarga memiliki acuan yang berbeda. Dokumen sekolah rumah adalah dokumen yang digunakan untuk melegalisasi pengajaran pendidikan di rumah bersama keluarga.
  7. Instruksi kontekstual itu adalah instruksi yang berisi materi yang nantinya berhubungan dengan kegiatan dan aktifitas sehari hari. Instruksi kontekstual yang dimaksud dalam homeschooling adalah salah satu jembatan anak untuk berdiskusi dengan orang tua dalam mengaitkan materi ajar dengan kehidupan sehari hari.

Pertanyaan

Sebetulnya adakah perbedaan pengasuhan dengan pendidikan? Jika tujuan dalam HS bergantung pada visi keluarga masing-masing, maka apa yang menjadi batasan seseorang atau suatu keluarga disebut menjalankan HS?

Jawaban

Pengasuhan berbeda sekali dengan pendidikan. Mengasuh itu adalah mendampingi, membimbing dan menjadikan anak sebagai subject dari pendidikan yang kita anut.  Sementara pendidikan adalah cara kita mendidik, disini dimaksudkan anak lebih berperan sebagai object orangtua yang mengikuti alur yang dibuat oleh orangtua.

Batasannya adalah tidak melanggar hukum Negara tentang pendidikan anak dan tidak melanggar aturan Tuhan. Sisanya adalah tidak ada batasan untuk anak Homeschooling dalam mempelajari apapun, dimanapun dan kapanpun.

Pertanyaan

  1. Apakah mbak ety juga mengajarkan anak2 pelajaran umum seperti di sekolah. Kurikulum yg digunakan mbak ety apa?
  2. Kegiatan apa untuk membangun aspek sosial pada anak homeschooling. Agar ia tetap memiliki banyak teman meski tidak bersekolah?

Jawaban

  1. Ya. Saya mengajarkan anak anak pelajaran umum, namun dengan cara cara yang anak anak sukai. Saya sering mengajak anak ke Museum untuk tahu sejarah atau mengenalkan anak tentang banyak hal mengenai situs situs, atau travelling berkeliling kota (city tour) mengenalkan alat transportasi, tata kota, bentuk gedung dst. atau Belanja mengenalkan anak pada mata uang, mengatur keuangan, menabung, membeli sesuai kebutuhan dst. Atau  bahkan tracking hanya sekitar lingkungan (nature walk) mengenalkan anak pada alam, mengenal macam tumbuhan, bentuk hewan, serangga dst. Kurikulum yang saya pakai adalahh kurikulum yang dibuat sendiri sesuai minat anak anak.
  2. Banyak kegiatan yang bisa membangun anak untuk belajar bersosialisasi. Anak anak saya belajar bersosialisasi sejak mereka bayi, ketika masih dalam gendongan saya selalu menyapa teman atau orang yang saya temui disekitar saya atau ketika berjalan jalan disekitar lingkungan rumah sambil memegang tangan kecilnya dan melambaikan tangannya. Saya ajarkan untuk say ‘hai’ atau hallo, ketika melewati kerumunan, saya mengucapkan permisi. Dst. Bahkan anak anak sering saya ajak mengajar ke kampus dan saya kenalkan dengan para mahasiswa saya. Kalau pas ngajar di kantor / kelas karyawan, ya mereka juga menyapa. Bersalaman dan saya biarkan berinteraksi dengan orang lain. Kalau saat ini yang sering adalah kami mengikuti kegiatan kegiatan yang berjejaring. Seperti kemping bersama keluarga homeschooler atau melakukan kegiatan bersama di komunitas.

Begitulah. Masih banyak pertanyaan yang lain, misal ; gimana mengatur waktu untuk mnghomeschoolingkan anak dengan kegiatan domestik sehari hari sekaligus sebagai seorang profesional ?

jawabannya adalah sekali lagi prioritas dan penjadwalan serta disiplin pada diri sendiri.

 

 

 

Pohon Literasi ; Komik Jepang dan Filasafat di dalamnya

Keluargaku suka sekali membaca komik. Terutama komik komik Jepang sebagai sarana rekreasi dan juga sebagai selingan bacaan. Beberapa komik sangat melekat di hati kami sekeluarga. Dari komik, kami belajar tentang filsafat hidup yang sarat makna. Warna warni kehhidupan dan juga sejarah sebuah bangsa. Mengapa? karena disana kita diajarkan untuk selalu bekerja keras untuk mencapai tujuan. Berpikir dengan logika dalam sebelum bertindak. Dan bukan menghafal.

Untuk komik anak anak disana diberikan pemahaman, bagaimana keragaman itu baik. Menghargai orang lain dan juga kekompakan dalam organisasi. Perhatikan saja, dari komik jadul macam Dragon Ball, Ninku, Mutsu dll. Para jagoan dikatakan sebagai orang orang yang dianggap bodoh oleh lingkungan namun tekun, berwelas asih dan juga setia kawan. Mau berbagi dan memahami orang lain dari lingkungan lingkungan yang berbeda.. Disadari atau tidak, anak anak yang membaca komik jepang atau suka anime memiliki visi dan misi yang panjang untuk kelangsungan hidupnya.

Dari komik juga kita belajar banyak sekali hal hal penting diluar bacaan bacaan formal. Bagaimana karakter orang orang, membaca situasi dan menguraikan serta merunutkan cerita macam komik detektif konan. Belajar aware dan hati hati terhadap lingkungan menjaga kebersihan belajar dari komik Theh Law of Ueki. atau belajar menyenangkan orang lain macam komik Doraemon. Atau tingkatan lain adalah bertahan hidup model Dragon ball dan seterusnya.

Komik pendidikan pun banyak juga. Macam komik komik korea Dingdong dan Pamannya atau komik Indonesia Sains Kuark. Disana pengetahhuan dijelaskan gamblang dan mudah. Dan tanpa menggurui.

 

Pohon Literasi ; Membaca = Membuka diri akan hal baru

Hal hal baru dan hal hal yang baik berkaitan erat dengan suasana hati dan suasana mental kita. Membaca membuat mental dan jiwa kita terisi dengan baik. Suasana yang baik itu membuat kita semakin membuka diri dan membuka pemikiran akan hal hal yang baru yang berada diluar diri kita. Banyak hal baru yang bisa kita dapatkan dari membaca buku buku. Mendapatkan trik trik dan teknik teknik baru dari memasak misalnya atau teknik teknik lain yang membuka wawasan kita dan memicu timbulnya ide ide baru dalam berkarya dan bermasyarakat.

Kemudian berikutnya adalah meningkatnya kesadaran diri kita untuk tampil lebih baik. Berkata lebih baik dan lugas, menyampaikan pendapat dengan kosa kata yang kaya. Yang berbobot dan berisi.

Anak anak yang sejak dini diperkenalkan dengan buku buku bacaan yang bermutu akan sangat menikmati bukunya dan memiliki banyak kosa kata baru yang memungkinkannya untuk membuka cakrawala pemahaman yang luas akan perbedaan cara pandang yang dianutnya dan cara pandang yang dianut oleh orang lain. Ketika ia merasakan perbedaan maka ia akan juga memberikan pemahaman kepada orang bahwa berbeda itu membuat ia menjadi lebih baik dalam memahami orang lain.

#day16 #Level5 #Kuliah_bunsay_IIP #tantangan_10_hari