Matematika Penambahan di Taman

Anak anak hobby tracking. Hari ini kami berjalan jalan dan berkeliling taman yang kemarin kami lalui. Ada yang baru disana. Ada bunga yang berbeda warna yang tumbuh di pojok taman. Wah… bunga apa itu? Itu adalah bunga pukul 4, bentuknya seperti terompet dan berwarna putih, merah, kuning dan beberapa yang berkombinasi. Memiliki biji berwarna hitam. Dan jika dihisap pangkal bunganya terasa manis.

Warna Kemarin Hari ini
Merah 8 13
Kuning 4 12
Putih 2 8
Ungu 7 10

Anak anak menghitung mulai berdasarkan jenis dulu, lalu mereka membahas penambahannya setiap hari dan itu seru sekali. Anak anak senang melakukan experimen ini. dan terus melakukannya setiap kita tracking. Ada penambahan bunga dan pasti ada pengurangan bunga yang lain karena layu atau kering dan mati atau dipetik oleh orang orang. matematika begitu sederhana jika kita mampu mengahjarkan konsepnya. Dan itu memang ada disekitar kita

 

Advertisements

Matematika di Dapur

Matematika juga ternyata ada di dapur ketika kita akan memasak. Seperti hari ini, Luna ikut ibu memasak dan akan membuat bumbu. Menyiapkan 2 siung bawang putih, 2 siung bawang merah dan 2 buah cabe rawit untuk membuat nasi goreng. Dan kesemuanya dimasak hari ini dengan ditambahkan garam 1 sendok teh. Mereka masihh belajar menjumlahkan.  Nggak lama, ibu akan membuat sambal maka jumlahh cabe harus lebih banyak. Ketika memasak agar agarpun haru dengan resep. berapa mili air yang harus direbus, berapa sachhet agar agar dst.

Jadi ternyata, banyak yang bisa dipakai untuk mengajarkan kepada anak anak kita matematika. dan itu benar benar ada di sekeliling kita. Sunguh menakjubkan bukan? Anak anak akan mudah mengerti dan memahami, ketika kita juga memahami alur pemikiran mereka.

‘ibu, masak ayam dong’

‘ya ayo… kita siapkan bumbunya dulu’

‘apa aaja?

‘bawang putih, jahe, lengkuas, salam, serehh, daun jeruk dan garam’

‘hahha.. banyak amat’

‘ coba hitung ada berapa jumlah semua bumbu bila ibu jejerkan disini?’

‘berapa jenisnya dulu, baru dikelompokkan per jenis dan baru bisa kamu hitung’

‘ohh… ada ada 7 jenis bu’

‘ok. sip’

ayo kita masakh ayamnya,

‘ngomong ngomong, ayamnya untuk 7 orang dirumahh kita membutuhkan berapa potong agar bisa dibagi rata?

‘ya 7 potong bu, masing masing dapet 1 potong’

‘kalau mau 2 potong jadi gimana?’

‘ya tambahkan 7 lagi, biar dapet 2 masing masing’

‘oh gitu.

begitulahh matematika dapurku ketika aku menjelaskan kepada anak anakku konsep dasarnya.

 

Matematika Play Ground

Kemarin kami bermain di play ground yang ada di Libersa Mansion Cluster Mogalana Bekasi. Menengok om Rere yang sedang sakit. Sementara ibu dan bapak berdiskusi dan  menemani om rere, anak anak main di play ground. Pulang main, mengajak ibu menghitung. Disana ada apa saja? siapa saja? dan main apa sajakah..?

Ternyata disana ada beberapa anak yang jika dijumlahkan menjadi 10 anak. Mereka bermain aneka mainan. Ada berapa jenis mainannya? dan anak anak bisa menjawab dengan baik. Ada ayunan, perosotan, panajtan berbentuk bulat, alat alat gym,  bangku berputar, bangku kayu, kolam ikan, aquarium dan banyak lagi yang lain. Teman teman bermain pun ikut dihitung. Ia berkenalan dengan salah satu teman yang bernama Arsya. Sungguh seru dan menyenangkan.

Mereka bermain dan terus bermain hingga merasa kelelahan. Dna kami pulang tengah malam. Setelah mereka menghabiskan 2 botol fruty, 3 gelas air mineral dan juga beberapa potong kue dan sepiring spagheti untuk masing masing anak.

Matematika dengan Lego

Hari ini anak anak bermain dengan asyiknya. Dan tiba tiba, muncul pertengkaran kecil yang menurut ku lucu. Berebut mainan. Tumben tumbenan. Dan mereka mengemukakan alasan mengapa berebut dan seterusnya.Ah betapa serunya jika mereka memahami bagaimana membagi.

‘ koq berebut ?’

‘ini orinya bu, dia ambil mainanku..’

‘ohh.. beitu. mengapa tidak dibagi saja ? luna 2 dan ori 2 mainan yang sama?’

‘nggak bisa. dibagi itu apa?

‘dibagi itu berati ori dan luna mendapatkan jumlah yang sama. misalnya ada 2, ori dan luna dapat satu satu gini’ aku mencontohkan membagi kelereng.

‘nah kalau banyak gini semua dibagi seperti ini,’ kali ini aku memberikan bergantian sampai mainan habis.

‘terus kalau sisa bagaimana bu?’

‘kalau sisa, letakkan didepan kalian berdua. suit dulu siapa yang menang boleh ambil.’ kataku.

‘ohh gitu…’ seru juga ya..

‘aku ngerti bu’

‘nahh pembagian bisa menggunakan lego juga. kayak gini. Ini adalah 4 : 4 = 1,’

‘hahhhaha… seru seru.. aku tahu’

begitulah… matematika kami hari ini..

 

 

 

Matematika Hujan

Tik tik tik bunyi hujan diatas genting. Airnya turun tidak terkira. Benar. Itu lagu ciptaan Ibu Sud yang melegenda dan yang selalu dinyanyikan olehh anak anak ketika hujan. Berapa titik hujan yang turun..? banyak sekali kan?

Lalu mengapa bisa diukur curah hujannya? dengan menampung air hujan yang jatuh dan mengukurnya tiap sekian detik atau menit. Maka akan diketahui berapa jumlah curah hhujannya. apakah dengan intensitas tinggi, rendah atau dengan apapun. Apakah itu berhubungan dengan matematika ? Ya. Jelas berhubungan. Semua yang ada di bumi ini dan kehidupan kita jelas berhubungan dengan matematika.

Dan ternyata matematika itu seru. Orion dan Luna tidak takut matematika. Mereka suka dan antusias jika diberikan soal soal yang menantang. Apalagi soal soal cerita. wahh… Betapa indahnya. Betapa menyenangkannya.

 

Matematika di Sungai

Kali ini kami berjalan dan bermain air di sungai, memang di sungai ada matematika? Ada. Menghitung jumlah batu yang besar dan kecil, kemudian mengelompokkan besar dan kecil. Menyusun menurut warna dst. Memperkirakan debit air sungai dan juga menghitung tumbuhan yang melekat di bebatuan. Intinya dimanapun kita bertemu matematika. Entah kita menghitung, mengelompokkan dalam bentuk himpunan atau menaksir memperkirakan juga adalah bentuk matematika. Belum lagi jika anak anak bermain melempar batu kecil agar mengenai batu yang lebih besar, maka ia belajar probabilitas. Kesempatan kena batunya. dari 10 batu kecil kira kira yang mengenainya berapa. Begitu seterusnya.

Ternyata memang matematika ada di mana saja. disekitar kita. Dan kita tidak harus memberikan buku yang masif belajar matematika. Begitu menyenangkan dan bergitu seru.  Anak anak juga bermain dengan riang dan senang hati tanpa terpaksa menghapal angka dan rumus. Karena semua begitu sederhana. Misalnya 3 x 4  itu berapa. Kita menjelaskan bukan dengan menghafal. Tapi dengan menambahkan 3 sebanyak 4 kali. Bisa dengan alat peraga tusuk gigi atau batu kerikil yang berserakan, atau biji pinus. 3 ditambahkan 3 ditambahkan 3 dan ditambahkan 3 dan ditambahkan 3 lagi. 3 nya sebanyak sebanyak 4 kali. Sehingga anak anak mengerti konsep dan juga mempraktekkannya. Dan akan mengerti ketika ditanya mengapa 3×4 harus 12.

Orion dan Luna mengenal matematika sudah dari awal dan mereka sangat antusias dan tidak takut matematika. Keseruan keseruan itu membuat mereka sangat senang. Dan malah rajin sekali menghitung dan bermain dengan angka angka. Betapa seru dan menyenangkan. Dan kamipun sebagai orangtua tidak merasa kesulitan.

 

 

Kembali Ke Taman

Kembali ke taman. kami kembali ke taman. Seperti biasa kami bermain lagi ke taman dekat rumah. Bermain. Disana banyak sekali yang bisa dilihat. Banyak kendaraan lalu lalang dan orang orang yang juga berjalan kian kemari. Banyak kupu kupu dan ragam bunga aneka warna.

‘warna biru’ ketika orion menemukan bunga telang,

‘pink’ ketika luna menemukan bunga mawar

‘hijau’ anggrek yang ditunjuknya.

‘putih’ begitu luna melihat anggrek panda

mereka belajar warna disini. semua bagus dan semua indah. Kami duduk duduk di bangku dan memandang lapangan. Melihat struktur bangku. Dan bentuknya. Melihat anak anak bermain bola dengan bentuknya yang bundar dan melihat  anak anak naik sepeda dengan roda 4 nya. Sangat menyenangkan. Kami belajar matematika disana. Seru.

Ternyata matematika bisa ditemui disana. Menjumlah dan menghitung aneka bunga. Menghitung banyakya daun yang jatuh, kendaraan yang lewat, orang yang berada dilapangan. dst.