Matematika dan Bunga

Matematika adalah ibu dari semua cabang ilmu. Mengapa? Karena matematika selalu melekat dalam semua pembicaraan, dalam semua keadaan dan dalam semua kebiasaan hidup yang dijalani. Pada masa anak anak mengajarkan matematika kepada mereka sangatlah mudah. Beberapa kali aku mengajak mereka berjalan dan bermain lalu berhitung. Apa yang tidak bisa kamu hitung dialam ini? jawabnya tidak ada. Semua bisa dihhitung bahhkan banyaknya daun dalam spotong kayu, atau roti di meja makanmu, biskuit dalam toples, semua bisa dihitung.

Proses menjalani matematika pertama kali aku mengenalkan anak pada bilangan. Memakai jariku untuk menghitung. Lalu ketika kami ke taman, kami menghhitung kupu kupu yang lewat dan berkeliaran. Menghitung mobil yang berjalan dan melintas satu satudi jalan raya yang kami lalui atau menghitung bunga bunga di taman dan bertanya tanya kepada anak anak, jumlah bunga merah ada berapa? bunga putih, bunga ungu, bunga orange dan seterusnya. Itu baru mengenai jumlah. Karena yang ditanya adalah berapa.

esoknya ketika kami pergi bermain lagi ke taman, ada beberapa bunga yang layu. Dan masih menghitung berapa. Berapa bunga yang layu dan gugur, sehingga ada proses pengurangan disana. Lalu berapa yang masih tersisa. Belajar dari bunga. Menghitung berapa jumlah kuntumnya hari ini. Dan berapa jumlah kuntumnya esok hari. Mengajarkan kepada anak anak tentang penambahan, pengurangan. Besar kecil dan sekaligus warna. Pelajaran itu sangat menyenangkan bagi mereka.

Maka ajaklah ke taman ketika anak anak ingin belajar matematika. Begitu pesan Ki Hajar Dewantara. Selain Matematika, anak akan belajar mengenai alam dan lainnya dan mereka paham tanpa kita paksa untuk memahami.

Begitulah..

Advertisements

Pohon Literasi

Pohon Literasi itu apa sih?

Mengapa Pohon Literasi?

Pohon itu terdiri atas akar, batang, daun dan buah. Akar sebagai dasar pohon, mencari sari makanan, batang sebagai penopang dan keluar masuk getah untuk mengantar sari makanan. Daun bertugas memasak dan berfotosintesa, mengubah air, cahaya matahari dan karbondioksida menjadi glukosa sebagai bahan makanan untuk bertumbuh. Kemudian buah sebagai media penyimpan cadangan makan dan sebagai alat untuk beregenerasi. Literasi berasal dari kata literatur yang berarti bacaan. Jadi makna seungguhhny adalah membaca dengan struktur berbentuk pohon. Artinya memiliki dasar, dan juga memiliki semua fungsinhya dengan baik.

Pohon literasi memiliki filsafat  seperti pohon, tergantung bahasannya. Misal kali ini adalah Pohon literasi bacaan keluarga. Maka yang akan di bahas adalah bacaan bacaan yang dibaca oleh setiap anggota keluarga kemudian di narasikan kembali dengan bahasa sendiri sesuai dengan tema yang diambil. Kalau perlu didiskusikan untuk menambah wawasan keluarga.

Pohon Literasiku terdiri atas beberapa bagian, dan semua memiliki arti serta simbol yang berbeda. Pot bunga sebagai wadah dari pohon dan yang menampung akar sebagai dasar pohon literasiku adalahh mencantumkan jenis / tema buku yang wajib dibaca oleh tiap anggota keluarga. Kemudian ada batang daun dan buah yang masing masing juga memiliki fungsi dan artinya sendiri sendiri. Kemudian bunga dengan warna sebagai tanda pembaca buku buku di ujung ujung ranting dan daun daun sebagai buku buku yang selesai dibaca oleh bunga bunga yang berada di ujung ranting. Buah adalah hasil dari atau kesimpulan buku buku yang sudah dibaca dan kaitannya terhadap hidup sehari hari.

#day1 #Level5 #Game_Level5 #Kuliah_bunsay_IIP #tantangan_10_hari #for_thing_to_change_must_change_first

 

 

Gaya Belajar Anak anakku

Anak anakku memiliki gaya belajar dan memahami sesuatu dengan cara yang berbeda beda. Mereka semua begitu unik. Dan tidak sama satu dengan yang lainnya. Penerimaan mereka atas suatu hal dan sudut pandang penjelasan narasinya pun berbeda beda.

Andro anakku yang pertama usia 17 tahun tanggal 17 september nanti, itu adalah anak dengan gaya belajar Visual. Dimana anak dengan gaya belajar itu, akan memahami sesuatu dengan cara merasakan, melihat langsung object yang dibicarakan atau sesuatu yang sedang dipelajari.

Gaya Belajar Orion beda lagi, Orion usia 6 tahun adalahh anak dengan gaya belajar Kinestetik.

Sementara Luna memiliki gaya belajar Visual Auditori.

detailnya menyusul ya..:-D karena setiap anak berbeda satu sama lainnya.

#day1  #Level4 #Gaya_Belajar_Anak #Kuliah_Bunsay_IIP

 

Perpustakaan keluarga, disanalah semua ilmu bermula

Kami memiliki perpustakaan mini. Disana banyak sekali buku bacaan yang sudah kami kumpulkan sejak kuliah sampai memiliki Andro, Orion dan Luna. Bahkan sampa hari ini masih mengoleksi dan mencari banyak buku buku untuk perkembangan dan menambah bahan diskusi dengan anak anak.

Buku buku itu terdiri dari buku buku manajemen, ilmu komputer, buku cerita anak, pengetahuan umum dan pengetahuan populer serta beberapa ensiklopedia juga komik.

Project keluarga kami saat ini yang direncanakan adalah  merapikan dan mendata buku buku serta mengelompokkan ke tempat tempat yang seharusnya. Melabeli dan memberi nama serta menomorinya.

Menurut proposal yang diberikan oleh andro dan hasil diskusi, Project ini diperkirakan selesai dalam waktu 2 minggu jika dikerjakan terus menerus setiap hari seorang diri. Namun karena yang akan bekerja adalah semua anggota keluarga, maka diperkirakan selesai hanya dalam waktu 3 sampai 4 hari saja. Waktu memulai pekerjaan adalah dari hari Kamis, 10 Agustus – 13 Agustus 2017 pukul 18.00 – 20.00 wwib.

Para petugas yang dituliskan adalah

  1. Bapak bertugas menuliskan semua label dan mencetaknya untuk tiap buku yang terdaftar
  2. Ibu bertugas mendata buku buku dan mengelompokkan
  3. Andro bertugas meletakkan buku buku dan merapikan di rak sesuai tinggi dan kelompoknya
  4. Orion bertugas membersihkan rak dan merapikan
  5. Luna bertugas membantu orion membersihkan dan memindahkan buku buku agar terjangkau mas andro untuk dirapikan

#day1 #Level3 #My_Family_My_Team #Kuliah_Bunsay_IIP #Project #tantangan_10_hari

@Bunda Sayang @Ibu Profesional @IIP

Ibu, Aku bisa membantumu…..

Anak anakku, Andro, Orion dan Luna adalah anak anak yang mandiri menurutku. Dengan segala kesibukanku mengajar, ngurus kantor dan punya daycare. Mereka semua mau bekerja sama untuk ikut serta mengatasi problema rumah tangga yang nggak punya asisten rumah tangga. Gimana caranya?

Sederhana banget, mereka semua sudah tahu pekerjaan mereka masing masing. Andro usia mau 17 tahun, remajaku itu sudah punya banyak  kegiatan. Namun masih sempat membereskan rumah, mencuci baju kami sekeluarga dan menjemurnya. Mengurus keuangannya sendiri karena kami hanya memberikan uang bulanan saja. Ia mengatur sendiri semua untuk hidupnya artinya mengatur sendiri untuk kegiatannya sehari hari, aik untuk kebutuhan atau keinginannya. Hal itu (pengaturan keuangan) dilakukan sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah. Tepatnya setelah lulus Sekolah Dasar. Sangat kecil memang. Namun kini ia menikmatinya. Ia mandiri untuk tinggal bersama siapapun dan dimanapun. Terakhir ia bepergian ke Ciheras sendirian tujuan survey untuk dirinya sendiri nanti kemana setelah lulus dari ujian paket C (karena ia homeschooler), yang sebelumnya pergi ke Salatiga tanpa kami orangtuanya. Dan itu tidak hanya sehari dua hari. Tapi hitungan minggu. Ia membawa uang secukupnya, ia pula yang menentukan akan berangkat dan pulang kapan.

Dan aku mengulangnya kali ini untuk Orion dan Lunaku adiknya andro yang terpaut cukup jauh.

Orion usia saat ini 6 tahun. Tugasnya di rumah adalah menjaga adik, membereskan mainannya setelah selesai, kemudian belajar atau menulis tentang kegiatannya secara mandiri. Orion sudha bisa berselancar di dunia maya. Ia bisa memberikan adiknya hiburan dengan mencari data di internet lalu membacakan ke adiknya. Tugas rumah tangga yang dia bis alakukan adalah menyapu, membersihkan debu, menyusun buku atau kertas yang berserakan, dan memasak sederhana macam menggoreng telur buat adik tanpa minyak, membuatkan sandwich dan menyiapkan buku buku untuk dibacanya sendiri atau buku untuk dibacakan ke adik.

Sementara Luna usia 4 tahun. Tugasnya membantu kakak membereskan mainan setelah dipakai, membantu menjemur pakaian dan mengangkat pakaian yang sudah kering. Luna sangat antusias. Diusianya ia sudah tidak lagi dibantu berkegiatan di kamar mandi, toilet training sudah dilakukan sejak ia berusia 13 bulan. Jadi tidak ada diapers setelahnya. Ia bisa mengambil makanan dan minumnya sendiri. Bahkan membantu kakak memasak makanan kesukaannya mie goreng.

Semua anakku kulatihkan hal yang sama diusia yang kira kira mendekati sama. Misalnya; toliet training usia 13 bulan, mereka belajar makan sendiri usia 12 bulan atau setara, membereskan mainan sejak usia dini sekali ketika mereka mulai mengenal bermain dengan alat.

Begitulah, kemandirian anak anakku.

cerita lainnya bisa dilihat di page FB

FB : Little White Rabbits Baby Daycare dan FB : My Kids My Homeschooling

#Level2

#Bunda_Sayang_IIP

#Melatih_Kemandirian

#Tantangan_10_Hari

 

Mengendalikan Emosi

Di daycare, anak anak yang ku asuh adalah anak anak orang lain yang dititipkan bersama dengan anak anakku Orion dan Luna. Beberapa anak memiliki karakter yang unik dan memiliki kebiasaan yang unik juga yang dibawa dari rumah. Ada yang suka kelosotan dilantai, ada yang suka mencakar teman dan ada juga yang suka makan di muntahkan/dilepehkan lagi.

Disini para pengasuh termasuk aku, harus pandai mengendalikan emosi. Ketika anak anak sangat kreatif (ujaranku untuk anak yang tak terkendali)  dan membangkitkan emosi untuk tertawa terlalu keras, marah dan jengkel menghadapi tingkah mereka.

Aku akan bercerita tentang anakku Luna sangat manja. Mungkin karena bungsu. Setiap bangun tidur siang selalu menangis mencariku. Padahal aku ada di kantor daycare dan dekat dengan nya. Terkadang timbul rasa jengkel karena kurasa tangisnya sebagai gangguan. Bahkan suamiku juga berpesan untuk membiarkannya. Melatih dia untuk mengelola emosinya. Aku mencoba beberapa hari membiarkannya saat menangis ketika ia bangun tidur siang, namun selalu gagal.

Kemudian, aku mencoba cara yang lain. Memeluknya ketika ia datang dan menangis dan mencariku ketika bangun tidur. Menghitung bersamanya, hitungan kelima ia berhenti.

sperti kejadian siang itu,

**lari sambil nangis.

“ibu.. huhuhu..ibu.. , ngucek ucek mata baru bangun tidur.

” ya, ibu disini.. ibu sedang kerja nak” jawabku.

“mau ibu..huhuhu..” masih nangis.

“ok. boleh nggak stop nangisnya? nanti teman teman ikut bangun mendengar tangis luna? “

“huhuuhu…” masih nangis. dan makin keras makin panjang. sebenarnya jengkel nih anak kenapa sih? koq lebay..?

“boleh di stop nangisnya? ” aku masih bertanya. aku menghindari mengancam anakku. aku hanya berusaha bertanya dan berharap ia mendengar.

“boleh..? ” ulangku. ia mengangguk.

“ok. 5 menit ya..” dan ia mengangguk. Luna menghitung sendiri “1,2,3,4,5” dan ia stop menangis. 5 menit menurutnya adalah hitungan 1 s.d 5. karena ia belum mengenal konsep hitungan jam. aku membiarkannya.

akhirnya tangis berhenti. Mengendalikan emosi menghadapi anak anak adalah dengan cara memahami bahwa usianya berbeda jauh dengan kita orangtuanya. Jadi pola berpikirnya yang harus kita pahami namun tetap mengajarkan dengan sabar dan lembut.

#day1

#level 1

#tantangan 10 hari

#komunikasi produktif

#kuliah bunsay IIP