Melatih Kemandirian Melatih Kesabaran

Melatih kemandirian kepada anak anak penuh dengan muatan kesabaran ekstra. Mengapa tidak? karena ketika proses melatih kemandirian pada anak anak juga melatih kita mengendalikan emosi sebagai orangtua. Dan menyadarkan kita bahwa mereka masih anak anak sekaligus menyadarkan kita kelak mereka akan menjadi apa dan bagaimana tanpa kita. Melatih kemandirian anak anak juga melatih kita untuk lebih kreatif mencari metode yang tepat agar tujuan dan target kita menjadikan anak mandiri tercapai tanpa anak anak merasa dipaksa.

Melatih kemandirian anak juga melatih kita tetap fokus menjadi orangtua, mengenang masa lalu kita dan latar belakang kita agar anak anak tidak mengalami hal yang kita alami dimasa kanak kanak kita.

Metode dan cara cara melatih kemandirina anak hrus disesuaikan dengan karakter tiap anak. Tidak ada yang sama. Dan itu juga tergantung kesiapan anak ketika akan berlatih. Kita bisa menanyakannya secara tidak langsung ke anak. Dan ketika ada sinyal bahwa ia siap, maka siapkan saja. Selain itu, kita sebagai ornagtua juga harus menghargai proses berlatih itu sendiri yang kadang jatuh bangun dan juga kadang tidak konsisten dilakukan oleh anak anak. Tidak mengapa, karena anak anak sesuai fitrahnya tetaplah anak anak. Mereka terus bertumbuh, dan pasti pertumbuhannya akan baik jika kita menghargai prosesnya. Tidak ada yang instant ketika kita melatihkan kemandirian ke anak dan langsung bisa praktek secara kontinue anaknya. Sekali lagi semua butuh proses panjang seiring pertumbuhannya. Orangtua adalah fasilitator yang mendampingi anak, sebaiknya juga melatih kemandirian emosionalnya sendiri ketika mendapati anak anaknya belum mandiri sesuai harapan dan ekspektasi. Tidak apa. mari belajar bersabar dan menghargai proses perkembangan dan bertumbuhnya anak anak kita menjadi manusia yang lebih baik.

Hal itulah yang kurasakan sebagai pelatihan dan catatan penting ketika melatih anak anakku untuk mandiri. Baik secara pribadi maupun sebagi anggota keluarga dan masyarakat.

#Aliran_rasa

#Bunda_sayang_IIP

#Level2

#melatih_kemandirian

Beraneka Rasa dan Warna Komunikasi Produktif

Dalam beberapa dan banyak hal, komunikasi yang sudah dijalankan dalam keluargaku memang tidak ‘text book‘ seperti tulisan di resume yang tertulis dan dibagikan di group IIP. Karena memang tidak sesempurna itu menjadi manusia, bahkan menjadi anggota keluarga dan berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain.

Namun pada intinya jelas, kami sudah menjalankannya. Dan komunikasi berjalan lancar, artinya semua bisa saling menerima pesan secara saling timbal balik. Dan bisa melaksanakan pesan atau amanat dari komunikasi yang terjalin dalam keluarga. Baik dengan anak anak maupun dengan orang dewasa / pasangan.

Indikatornya apa keberhasilan itu? indikatornya bahwa selain pesan dalam bentuk bahasa tubuh, kata kata maupun dalam bentuk tulisan terbaca dengan baik oleh masing masing anggota keluarga. Bisa hidup berdampingan, pengasuhan anak dalam berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan/ empati berjalan dengan baik dalam keluarga. Sehingga jarang sekali atau hampir tidak pernah terjadi missed communication dalam keluarga.

Perjalanan untuk saling berkomunikasi dengan aktif dan baik itu memang berliku, dengan proses yang panjang. Dan dengan sesadar sadarnya bahwa gaya komunikasi tiap keluarga bahkan tiap individu itu berbeda beda. Sehingga kami sekeluarga tetap meggunakan gaya lugas, terus terang/transparan, dengan kata kata yang sesuai.

Begitulah… setiap orang punya warna dalam gaya komunikasinya. Dan setiap keluarga juga memiliki gaya komunikasi yang unik. Namun pesan yang harus disampaikan bisa tetap tersampaikan dengan kata baik, dengan empati yang benar dan gaya tubuh / gesture yang sesuai.

 

#aliran_rasa

#kuliah_bunsay_IIP

#komunikasi_produktif